Rabu, 19 Februari 2014

Apakah Anda memiliki kecerdasan Interpersonal?

Orang dengan kecerdasan interpersonal yang berkembang baik mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
  1. Membentuk dan mempertahankan suatu hubungan sosial
  2. Mampu berinteraksi dengan orang lain
  3. Mengenali dan menggunakan berbagai cara untuk berhubungan dengan orang lain.
  4. Mampu mempengaruhi pendapat atau tindakan orang lain.
  5. Turut serta dalam upaya bersama dan mengambil berbagai peran yang sesuai, mulai dari menjadi seorang pengikut hingga menjadi seorang pemimpin.
  6. mengamati perasaan, pikiran, motivasi, perilaku dan gaya hidup orang lain
  7. Mengerti dan berkomunikasi dengan efektif baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal.
  8. Mengembangkan keahlian untuk menjadi penengah dalam suatu konflik, mampu bekerja sama dengan orang yang mempunyai latar belakang yang beragam
  9. Tertarik menekuni bidang yang berorientasi interpersonal seperti menjadi pengajar, konseling, manajemen atau politik.
  10. Peka terhadap perasaan, motivasi dan keadaan mental seseorang
Kecerdasan interpersonal memungkinkan kita untuk berkomunikasi dan memahami orang lain, mengerti kondisi pikiran atau suasana hati yang berbeda, sikap atau temperamen, motivasi dan kepribadian. Kecerdasan ini juga meliputi kemampuan untuk membentuk dan mempertahankan suatu hubungan. Mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kawannya dan biasanya sangat menonjol dalam melakukan kerja kelompok.
Kecerdasan interpersonal yang berhasil dikembangkan dengan baik akan sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya setelah ia menyelesaikan pendidikan formalnya.
Mengembangkan kecerdasan interpersonal
  1. Melatih kemampuan berkomunikasi efektif secara verbal dan nonverbal
  2. mempelajari dan mengerti serta peka terhadap mood, motivasi dan perasaan orang lain
  3. Bekerja sama dalam suatu kelompok
  4. Belajar dalam suatu kelompok (belajar dengan berkolaborasi)
  5. Menjadi mediator dalam penyelesaian suatu konflik
  6. Mengamati dan mengerti maksud tersembunyi dari suatu sikap, perilaku dan cara pandangan seseorang.
  7. Belajar melihat sesuatu dari suatu sudut pandang orang lain.
  8. Menciptakan dan mempertahankan sinergi.
  9. Simpati terhadap orang lain
  10. Empati terhadap orang lain
Diambil dari sumber: Adi W. Gunawan, Born to be a genius, (Jakarta, Gramedia, 2003)

Menyenangkan Orang tua

Orang tua: Sehari bersama mereka

Orang tua adalah sosok yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Mereka berjuang melakukan segalanya, membanting tulang mencari nafkah, memberikan waktunya untuk anak dan keluarga, mereka rela kekurangan asal anak-anak mereka mendapatkan dan tidak kekurangan.
Betapa sering kita mendengar orang tua yang rela kelaparan karena semua diberikan kepada anak-anaknya. Betapa banyak orang tua yang rela hidup seadanya karena semua yang ia punya ia berikan kepada anaknya untuk sekolah ataupun apapun juga.
Pengorbanan yang dilakukan karena cinta kasih yang timbul dari hati orang tua kepada anak-anaknya. Namun setelah sekian tahun berlalu, anak-anakpun beranjak dewasa dan akhirnya mereka satu persatu berkeluarga orang tua tetap mengasihi mereka dan berusaha memberikan kepada mereka. Namun suatu saat ketika orang tua tidak lagi dapat memberikan hal yang bersifat materi apa yang mereka dapat. Mereka akan sangat berbahagia tatkala melihat anak-anak mereka berbahagia dan berhasil namun betapa banyak orang tua yang menangis karena tidak lagi ada yang perduli kepada mereka. Bahkan kasih sayang orang tua kepada anak-anak dirasa sebagai hal yang merepotkan dan cerewet. Bahkan lebih tragis betapa banyak orang tua yang akhirnya kesepian dan hidup sendiri tanpa belaian kasih sayang dari anak dan cucunya.
Kami menyadari harus memberi perhatian kepada orang tua kita selagi dia ada, selagi dapat menikmati cinta kasih kita, selagi masih dapat menikmati kebersamaan dengan kita.
Pada suatu ketika kami coba memulai satu hal dengan semua teman yang menyadari hal ini yang bernaung dibawah Yayasan Eunike mengadakan sehari bersama dengan Orang tua. Kami mengajak kedua orang tua kami bersama dengan anak-anak, kami pergi rekreasi bersama  khusus untuk orang tua kita masing-masing. Tidak jauh….. kami memilih pergi ke Kebun Raya Bogor, dan sungguh kami tidak menyangka dengan kegiatan sederhana seperti ini memberi kesan mendalam bagi orang tua kami, mereka sangat menikmatinya.
Kami ingin, ingin sekali kalau kegiatan ini bolehlah diadakan  lebih sering sehingga mereka yang sudah lanjut usiapun masih boleh menikmati bersama dengan anak yang telah mereka lahirkan, besarkan hingga saat ini. Tuhan memberkati.




Kamis, 15 November 2012

Pembelajaran Berumah Tangga

Berumah tangga tidaklah semudah yang di bayangkan. Banyak orang masuk ke dalam kehidupan berumah tangga dengan harapan yang sangat tinggi dan muluk. Hampir semua pasangan yang menikah tatkala di tanya apa yang mereka cari dari pernikahan yang dijalankan maka sebagian besar akan memberi jawab hidup yang berbahagia hingga tua, saling mengerti dan saling mengasihi, sampai tua hidup berbahagia.
Realita dari kehidupan pernikahan ternyata tidaklah demikian, banyak dari pasangan justru pernikahannya menjadi mandeg tidak bertumbuh bahkan terancam dengan perceraian. ahka yang menyedihkan adalah banyaknya angka perceraian bagi pasangan yang baru menikah satu sampai dua tahun. Mengapa ini sampai terjadi?
Permasalahan umum yang terjadi adalah pertama tidak berjalannya komunikasi antara pasangan, komunikasi antar pasangan lebih banyak mengarah kepada tuntutan dari masing-masing pihak.  Kedua, Mereka tidak lagi mengerjakan bagiannya masing-masing. Seharusnya baik wanita maupun pria memiliki peran yang harus dilakukan dalam rangka mengerjakan dan menghidupi kehidupan rumah tangganya. Alkitab telah dengan jelas memberikan arahan kepada pria untuk berperan sebagai kepala rumah tangga dan kepada wanita untuk memerankan peranannya sebagai penolong yang sepadan bagi suaminya. ketiga, mereka hanyut didalam permasalahan rumah tangga yang timbul tanpamengantisipasi dan mencari jalan keluarnya. misalnya masalah yang paing umum dan sering terjadi adalah masalah keuangan. Pada saat mereka menikah karena kesulitan keuangan maka banyak diantara mereka yang tidak sanggup untuk keluar dari rumah orang tuanya, akhirnya mereka tinggal bareng bersama dengan orang tua mereka. Tatkala mereka tinggal bersama maka mulailah timbul permasalahan antara suami istri ini. Umumnya wanita ingin sekali mempunyai daerah teritorialnya bersama dengan sang suami, biasanya ia menempatkan kamar merupakan daerahnya privacy dan ia sanga menikmati didaerah zona amannya namun ini akan menjadi masalah dalam keluarga karena dianggap istri tidak mau bergaul dengan keluarga lainnya. Di sisi lain istri ingin suaminya bersama dengan dia dan menemaninya di kamar namun suai leih suka di luar dan berkumpul dengan keluarga lainnya dan sikap ini akan merupakan penolakkan bagi sang istri karena suami lebih memilih di luar dari pada di kamar menemaninya dan ini akan di terima sebagai suami sudah tidak mengasihinya lagi. Masalah menjadi rumit karena istri akan menuntut pindah namun suami akan berpikir secara efisiensi yaitu lebih baik tingga di rumah orang tua dulu karena memang banyak kamar yang dapat di gunakan sehingga tidak perlu boros mengeluarkan uang untuk mengontrak, dengan demikian pertengkaran di pastikan mulai terjadi............ keempat, Tidak terlatihnya kita untuk mempelajari mengenai mood pasangan, tidak terlatih untuk menyatukan diri menjadi "sedaging" sehingga seringkali justru merasa mengapa pasangan kita tidak bisa mengerti kita. kelima, pengekspresian perasaan yang tidak tepat dengan bahasa kasih pasangan dan mencurahan rasa kasih dan cinta tidak tersampaikan kepada pasangannya tetapi justru yang terasa adalah tuntutan. Ke enam pasangan mulai tidak menyadari bahwa memang pria dan wanita di ciptakan dengan berbeda dan pendekatan bagi keduanyapun berbeda, misalnya wanita adalah sosok yang emosional dan relational sedangkan para pria adalah sosok yang sangat rasional dan funsional dari pendekatan ini saja seringkali timbul konflik.
Pembelajaran bagi pasangan untuk berumah tangga, bahwa pernikahan ini hanya bisa berjalan jika di kerjakan bersama. Masing-masing menjalankan perannya dan melakukan yang terbaik yang dapat di berikan kepada pasangannya bukan menunutut yang terbaik dari pasangannya.  Mempelajari perbedaan pendekatan antar pria dan wanita sehingga mengerti bagaimana berelasinya, mempelajari bahasa kasih dari pasangan dan nyatakan cinta kita melalui bahasa kasihnya bukan bahasa kasih kita Dan terakhir yang terpenting adalah kesatuan suami dan istri menjadi kesatuan yang paling lekat dan kuat adalah kunci dari segalanya, bahwa pasangan dan kita adalah satu, apa yang pasangan rasakan haruslah kita rasakan demikian pula sebaliknya seingga bersama daoat berjalan dan serahkan semua kepada pimpinan Tuhan Yesus sebagai kepala dari rumah tangga. Bawa semua masalah keluargamu kepada Kristus dan tunduk pada Kristus lakukan perintahNya, Tuhan memberkati.

Oleh: Ev. Julimin Nagaputra

Rabu, 20 Juni 2012

Pengembangan diri dalam pelayanan


Pengembangan diri sangat diperlukan setiap orang dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Seorang pekerja dalam meniti kariernya akan selalu berusaha mengembangkan dirinya dalam segala hal sehingga memungkinkan dirinya mendapat promosi dalam jabatannya. Begitu pula dalam melayani TUhan, Pelayanan yang dilakukan adalah suatu anugrah kepercayaan dari Allah kepada umatNYA, dengan demikian pelayanan itu adalah suatu kehormatan maka harus dilakukan dengan kesungguhan hati. Setiap umat yang melayani harus mengembangkan diri semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi Allahnya.
Yayasan Eunike bersyukur dengan pemimpinnya yang terus belajar dan mengembangkan diri memajukan pelayanan TUhan dalam wadah yayasan ini.  Tidak hanya pimpinan begitu juga para hamba Tuhan yang melayani juga mengembangkan diri dalam bidangnya masing-masing.  Kali ini kami bersyukur dengan kembalinya pimpinan kami dalam libur semesternya dengan memberikan beberapa pembinaan bagi seluruh pemimpin Yayasan Eunike.  Bapak Christian Kartawijaya  dan Ibu Anne Kartawijaya yang sedang melanjutkan study di Texas America pulang dengan memberikan pelatihan kepada seluruh pemimpin Kelompok Tumbuh Bersama dengan  materi pengembangan diri.
Pelatihan dibuka dengan pembahasan dari kitab Pengkotbah pasal 3:1,11 dan 14, bahwa segala sesuatu ada masanya, dan Tuhan membuat segala sesuatu itu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka, tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Itulah kesulitasn manusia tidak belajar untuk mengerti dan menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah.  Manusia seringkali menyia-nyiakan waktunya, padahal waktu berjalan terus.
Manusia perlu menyadari bahwa setiap saat atau  moment adalah sangat penting , atau akan menjadi hal yang paling penting bagi hidup kita, masalahnya adalah bagaimana mengisinya. Secara keberdosaan manusia masuk dalam kehidupan yang penuh kesia-siaan  kecuali manusia mengisi dan menghidupinya didalam anugrah Allah, lepas dari Allah hanya akan menjumpai kesia-siaan. Diluar Allah segala sesuatu menjadi tidaklah berarti, dan kunci hidup di dalam Allah adalah tunduk dan takut padaNYA dan penyatuan diri kedalam diri anak Allah (Tuhan Yesus) adalah kunci menuju ke tidak sia-siaan.
Melayani Tuhan manusia seringkali harus bersentuhan dengan manusia lain dalam bersinergi . Networking ataupun team dalam pelayanan merupakan hal yang sangat penting dalam melayani Tuhan memberitakan kerajaanNYA. Dalam kerja sama inilah setiap manusia harus belajar secara pribadi mengenal akan dirinya dan mengembangkannya.
Dalam hal ini Christian menjelaskan lebih rinci  bahwa didalam pelayanan di perlukan sinergi yang dinamik, dimana dalam setiap kompenen yang bersinergi member I tekanannya masing-masing. Menurutnya dalam setiap kelompok orang yang melayani maka akan terbagi menjadi 3 kelopk jenis orang yaitu:

1.       Kelompok Thinker
2.       Kelompok Feeler
3.       Kelompok Doer
Kelompok Thinker adalah kelompok orang yang dalam pelayanannya seringkali lebih mengutamakan penggunaan pikiran ( Think)  mereka dalam pelayanan akan:
a.       To Know
b.      Understand
c.       Analyze
Kelompok Feeler adalah kelompok pelayan yang selalu menekankan sisi emotional mereka, penekanan pada Emosi hidup manusia:
a.       To like (suka)
b.      To Prefer (lebih menyukai)
c.       Treasure ( Menyimpan)
Kelompok Doer adalah kelompok yang menekankan bagian tingkah laku hidup manusia:
a.       To be able (mampu)
b.      Excell (mahir)
c.       Master
Namun harus disadari bahwa setiap manusia sebenarnya mempunyai ke 3 unsur ini namun ada satu yang akan lebih menonjol dari orang tersebut
 
Pengembangan diri sangat diperlukan setiap orang dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Seorang pekerja dalam meniti kariernya akan selalu berusaha mengembangkan dirinya dalam segala hal sehingga memungkinkan dirinya mendapat promosi dalam jabatannya. Begitu pula dalam melayani TUhan, Pelayanan yang dilakukan adalah suatu anugrah kepercayaan dari Allah kepada umatNYA, dengan demikian pelayanan itu adalah suatu kehormatan maka harus dilakukan dengan kesungguhan hati. Setiap umat yang melayani harus mengembangkan diri semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi Allahnya.
Yayasan Eunike bersyukur dengan pemimpinnya yang terus belajar dan mengembangkan diri memajukan pelayanan TUhan dalam wadah yayasan ini.  Tidak hanya pimpinan begitu juga para hamba Tuhan yang melayani juga mengembangkan diri dalam bidangnya masing-masing.  Kali ini kami bersyukur dengan kembalinya pimpinan kami dalam libur semesternya dengan memberikan beberapa pembinaan bagi seluruh pemimpin Yayasan Eunike.  Bapak Christian Kartawijaya  dan Ibu Anne Kartawijaya yang sedang melanjutkan study di Texas America pulang dengan memberikan pelatihan kepada seluruh pemimpin Kelompok Tumbuh Bersama dengan  materi pengembangan diri.
Pelatihan dibuka dengan pembahasan dari kitab Pengkotbah pasal 3:1,11 dan 14, bahwa segala sesuatu ada masanya, dan Tuhan membuat segala sesuatu itu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka, tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Itulah kesulitasn manusia tidak belajar untuk mengerti dan menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah.  Manusia seringkali menyia-nyiakan waktunya, padahal waktu berjalan terus.
Manusia perlu menyadari bahwa setiap saat atau  moment adalah sangat penting , atau akan menjadi hal yang paling penting bagi hidup kita, masalahnya adalah bagaimana mengisinya. Secara keberdosaan manusia masuk dalam kehidupan yang penuh kesia-siaan  kecuali manusia mengisi dan menghidupinya didalam anugrah Allah, lepas dari Allah hanya akan menjumpai kesia-siaan. Diluar Allah segala sesuatu menjadi tidaklah berarti, dan kunci hidup di dalam Allah adalah tunduk dan takut padaNYA dan penyatuan diri kedalam diri anak Allah (Tuhan Yesus) adalah kunci menuju ke tidak sia-siaan.
Melayani Tuhan manusia seringkali harus bersentuhan dengan manusia lain dalam bersinergi . Networking ataupun team dalam pelayanan merupakan hal yang sangat penting dalam melayani Tuhan memberitakan kerajaanNYA. Dalam kerja sama inilah setiap manusia harus belajar secara pribadi mengenal akan dirinya dan mengembangkannya.
Dalam hal ini Christian menjelaskan lebih rinci  bahwa didalam pelayanan di perlukan sinergi yang dinamik, dimana dalam setiap kompenen yang bersinergi member I tekanannya masing-masing. Menurutnya dalam setiap kelompok orang yang melayani maka akan terbagi menjadi 3 kelopk jenis orang yaitu:
1.       Kelompok Thinker
2.       Kelompok Feeler
3.       Kelompok Doer
Kelompok Thinker adalah kelompok orang yang dalam pelayanannya seringkali lebih mengutamakan penggunaan pikiran ( Think)  mereka dalam pelayanan akan:
a.       To Know
b.      Understand
c.       Analyze
Kelompok Feeler adalah kelompok pelayan yang selalu menekankan sisi emotional mereka, penekanan pada Emosi hidup manusia:
a.       To like (suka)
b.      To Prefer (lebih menyukai)
c.       Treasure ( Menyimpan)
Kelompok Doer adalah kelompok yang menekankan bagian tingkah laku hidup manusia:
a.       To be able (mampu)
b.      Excell (mahir)
c.       Master
Namun harus disadari bahwa setiap manusia sebenarnya mempunyai ke 3 unsur ini namun ada satu yang akan lebih menonjol dari orang tersebut
 
Pengembangan diri sangat diperlukan setiap orang dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Seorang pekerja dalam meniti kariernya akan selalu berusaha mengembangkan dirinya dalam segala hal sehingga memungkinkan dirinya mendapat promosi dalam jabatannya. Begitu pula dalam melayani TUhan, Pelayanan yang dilakukan adalah suatu anugrah kepercayaan dari Allah kepada umatNYA, dengan demikian pelayanan itu adalah suatu kehormatan maka harus dilakukan dengan kesungguhan hati. Setiap umat yang melayani harus mengembangkan diri semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi Allahnya.
Yayasan Eunike bersyukur dengan pemimpinnya yang terus belajar dan mengembangkan diri memajukan pelayanan TUhan dalam wadah yayasan ini.  Tidak hanya pimpinan begitu juga para hamba Tuhan yang melayani juga mengembangkan diri dalam bidangnya masing-masing.  Kali ini kami bersyukur dengan kembalinya pimpinan kami dalam libur semesternya dengan memberikan beberapa pembinaan bagi seluruh pemimpin Yayasan Eunike.  Bapak Christian Kartawijaya  dan Ibu Anne Kartawijaya yang sedang melanjutkan study di Texas America pulang dengan memberikan pelatihan kepada seluruh pemimpin Kelompok Tumbuh Bersama dengan  materi pengembangan diri.
Pelatihan dibuka dengan pembahasan dari kitab Pengkotbah pasal 3:1,11 dan 14, bahwa segala sesuatu ada masanya, dan Tuhan membuat segala sesuatu itu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka, tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Itulah kesulitasn manusia tidak belajar untuk mengerti dan menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah.  Manusia seringkali menyia-nyiakan waktunya, padahal waktu berjalan terus.
Manusia perlu menyadari bahwa setiap saat atau  moment adalah sangat penting , atau akan menjadi hal yang paling penting bagi hidup kita, masalahnya adalah bagaimana mengisinya. Secara keberdosaan manusia masuk dalam kehidupan yang penuh kesia-siaan  kecuali manusia mengisi dan menghidupinya didalam anugrah Allah, lepas dari Allah hanya akan menjumpai kesia-siaan. Diluar Allah segala sesuatu menjadi tidaklah berarti, dan kunci hidup di dalam Allah adalah tunduk dan takut padaNYA dan penyatuan diri kedalam diri anak Allah (Tuhan Yesus) adalah kunci menuju ke tidak sia-siaan.
Melayani Tuhan manusia seringkali harus bersentuhan dengan manusia lain dalam bersinergi . Networking ataupun team dalam pelayanan merupakan hal yang sangat penting dalam melayani Tuhan memberitakan kerajaanNYA. Dalam kerja sama inilah setiap manusia harus belajar secara pribadi mengenal akan dirinya dan mengembangkannya.
Dalam hal ini Christian menjelaskan lebih rinci  bahwa didalam pelayanan di perlukan sinergi yang dinamik, dimana dalam setiap kompenen yang bersinergi member I tekanannya masing-masing. Menurutnya dalam setiap kelompok orang yang melayani maka akan terbagi menjadi 3 kelopk jenis orang yaitu:
1.       Kelompok Thinker
2.       Kelompok Feeler
3.       Kelompok Doer
Kelompok Thinker adalah kelompok orang yang dalam pelayanannya seringkali lebih mengutamakan penggunaan pikiran ( Think)  mereka dalam pelayanan akan:
a.       To Know
b.      Understand
c.       Analyze
Kelompok Feeler adalah kelompok pelayan yang selalu menekankan sisi emotional mereka, penekanan pada Emosi hidup manusia:
a.       To like (suka)
b.      To Prefer (lebih menyukai)
c.       Treasure ( Menyimpan)
Kelompok Doer adalah kelompok yang menekankan bagian tingkah laku hidup manusia:
a.       To be able (mampu)
b.      Excell (mahir)
c.       Master
Namun harus disadari bahwa setiap manusia sebenarnya mempunyai ke 3 unsur ini namun ada satu yang akan lebih menonjol dari orang tersebut
 
Identifikasikan diri kita ada dimana
Ciri Khas seorang Thinker: Seperti sebuah perpustakaan, semua ada dan maunya banyak. Mereka mementingkan: Fakta, Konsep, Prinsip, Konteks, Aplikasi, Studi kata, dan hubungan anta ride-ide.
Ciri seorang Feeler (Love) : kelompok ini lebih menyukai suasana yang hangat dan panas (camp Fire), baginya learning is emotional, celebrative, warm. Pendekatannya: Mementingkan pengalaman, suasana yang hangat, nilai bersifat personal, passionate devotion, bebas bertanya, senang sharing menceritakan pengalaman, senang berelasi dengan banyak orang.
Ciri seorang  Doer: Lebih seperti laboratorium dan bengkel kerja, mereka mementingkan hal-hal yang bersifat praktis, action, kompetensi, proyek-proyek, hasil-hasil, Efisiensi, menguasai skill tertentu.
Contoh pendekatan pelayanan mereka jiak melayani sebagai pengajar:

Seorang Thinker sebagaai pengajar makaa ia akan banyak mempersiapkan tentang prinsip-prinsip dan konteksnya serta bagaimana aplikasinya, orang thinker akan memakan waktu yang sangat lama dalam persiapan. Aplikasi mereka umumnya kurang praktis sangat teoritis, kelompok ini jika berkerja sama dengan kelompok feeler maka akan banyak kendala, kelompok feeler sulitb menerima mereka.
JIka seorang Feeler yang menjadi pengajar , maka didalam pengajarannya sangat mementingkan relationship, ini menjadi yang utama namun ada kebahayaannya yaitu: Kehangatan basa basi dalam pengertian tidak terlalu dalam, tidak ada koneksi dengan firman Tuhan, baginya Extreme learning is superficial and self centered.]
Seorang Doer yang menjadi pengajar maka baginya Extreme learning is repetitive and task oriented. Dari ke 3 nya maka di simpulkan Thinker: Explainer, Feeler: Fasilitator, Doer adalah coach. Diharapka dengan mempelajari ini maka kita lebih dapat mengembangkan peran pribadi kita didalam setiap pelayananan. Tidak menjadi masalah dengan kelompok mana kita bekerja sama karena kita belajar mengembangkan ketiga hal ini dalam hidup kita.

Oleh: Ev Julimin Nagaputra. S.Th., M.A.C.M  sumber dari bahan ceramah dari bapak Christian Kartawijaya. MBA di Jakarta Garden City Sabtu , 16 Juli 2012

Identifikasikan diri kita ada dimana
Ciri Khas seorang Thinker: Seperti sebuah perpustakaan, semua ada dan maunya banyak. Mereka mementingkan: Fakta, Konsep, Prinsip, Konteks, Aplikasi, Studi kata, dan hubungan anta ride-ide.
Ciri seorang Feeler (Love) : kelompok ini lebih menyukai suasana yang hangat dan panas (camp Fire), baginya learning is emotional, celebrative, warm. Pendekatannya: Mementingkan pengalaman, suasana yang hangat, nilai bersifat personal, passionate devotion, bebas bertanya, senang sharing menceritakan pengalaman, senang berelasi dengan banyak orang.
Ciri seorang  Doer: Lebih seperti laboratorium dan bengkel kerja, mereka mementingkan hal-hal yang bersifat praktis, action, kompetensi, proyek-proyek, hasil-hasil, Efisiensi, menguasai skill tertentu.
Contoh pendekatan pelayanan mereka jiak melayani sebagai pengajar:

Seorang Thinker sebagaai pengajar makaa ia akan banyak mempersiapkan tentang prinsip-prinsip dan konteksnya serta bagaimana aplikasinya, orang thinker akan memakan waktu yang sangat lama dalam persiapan. Aplikasi mereka umumnya kurang praktis sangat teoritis, kelompok ini jika berkerja sama dengan kelompok feeler maka akan banyak kendala, kelompok feeler sulitb menerima mereka.
JIka seorang Feeler yang menjadi pengajar , maka didalam pengajarannya sangat mementingkan relationship, ini menjadi yang utama namun ada kebahayaannya yaitu: Kehangatan basa basi dalam pengertian tidak terlalu dalam, tidak ada koneksi dengan firman Tuhan, baginya Extreme learning is superficial and self centered.]
Seorang Doer yang menjadi pengajar maka baginya Extreme learning is repetitive and task oriented. Dari ke 3 nya maka di simpulkan Thinker: Explainer, Feeler: Fasilitator, Doer adalah coach. Diharapka dengan mempelajari ini maka kita lebih dapat mengembangkan peran pribadi kita didalam setiap pelayananan. Tidak menjadi masalah dengan kelompok mana kita bekerja sama karena kita belajar mengembangkan ketiga hal ini dalam hidup kita.,
Oleh: Ev Julimin Nagaputra. S.Th., M.A.C.M  sumber dari bahan ceramah dari bapak Christian Kartawijaya. MBA di Jakarta Garden City Sabtu , 16 Juli 2012

Identifikasikan diri kita ada dimana
Ciri Khas seorang Thinker: Seperti sebuah perpustakaan, semua ada dan maunya banyak. Mereka mementingkan: Fakta, Konsep, Prinsip, Konteks, Aplikasi, Studi kata, dan hubungan anta ride-ide.
Ciri seorang Feeler (Love) : kelompok ini lebih menyukai suasana yang hangat dan panas (camp Fire), baginya learning is emotional, celebrative, warm. Pendekatannya: Mementingkan pengalaman, suasana yang hangat, nilai bersifat personal, passionate devotion, bebas bertanya, senang sharing menceritakan pengalaman, senang berelasi dengan banyak orang.
Ciri seorang  Doer: Lebih seperti laboratorium dan bengkel kerja, mereka mementingkan hal-hal yang bersifat praktis, action, kompetensi, proyek-proyek, hasil-hasil, Efisiensi, menguasai skill tertentu.
Contoh pendekatan pelayanan mereka jiak melayani sebagai pengajar:

Seorang Thinker sebagaai pengajar makaa ia akan banyak mempersiapkan tentang prinsip-prinsip dan konteksnya serta bagaimana aplikasinya, orang thinker akan memakan waktu yang sangat lama dalam persiapan. Aplikasi mereka umumnya kurang praktis sangat teoritis, kelompok ini jika berkerja sama dengan kelompok feeler maka akan banyak kendala, kelompok feeler sulitb menerima mereka.
JIka seorang Feeler yang menjadi pengajar , maka didalam pengajarannya sangat mementingkan relationship, ini menjadi yang utama namun ada kebahayaannya yaitu: Kehangatan basa basi dalam pengertian tidak terlalu dalam, tidak ada koneksi dengan firman Tuhan, baginya Extreme learning is superficial and self centered.]
Seorang Doer yang menjadi pengajar maka baginya Extreme learning is repetitive and task oriented. Dari ke 3 nya maka di simpulkan Thinker: Explainer, Feeler: Fasilitator, Doer adalah coach. Diharapka dengan mempelajari ini maka kita lebih dapat mengembangkan peran pribadi kita didalam setiap pelayananan. Tidak menjadi masalah dengan kelompok mana kita bekerja sama karena kita belajar mengembangkan ketiga hal ini dalam hidup kita.,
Oleh: Ev Julimin Nagaputra. S.Th., M.A.C.M  sumber dari bahan ceramah dari bapak Christian Kartawijaya. MBA di Jakarta Garden City Sabtu , 16 Juli 2012